March 20, 2014

Nama Asli atau Nama Panggung? #InternetWorld

kamu lahir dengan nama apa di dunia Maya?
emang penting gak sih privasi itu di dunia yang sempit ini..
tergantung kamu y, kalo aku sebagai artis yang terkenal dimana-mana
aku pasti mikir! apapun yang aku lakukan di dunia maya ini akan membuat nama aku semakin terkenal ataupun semakin terkenal jeleknya.. hha cukup deh..



jadi inget suatu kalimat!
kamu gak HARUS menjadi seperti yang mereka inginkan, tapi kamu HARUS menjadi apa yang kamu inginkan.

menjadi Jujur itu banyak yang bilang mneyakitkan? Ngacung deh~
biasanya sih banyak stalker-stalker yang saking senengnya mereka ngikutin semua UPDATE yang aku buat?
banyak sih pikiran buat idenditas baru biar orang lain gak tahu kalo itu emang akun punya kita kalo di internet. berita buruknya? aku punya sejumlah akun dengan nama yang sama? disemua situs yang pernah aku kunjungi. WHAT? kalo emang penasaran kan Daftar dulu AKTIF belakangan,, hha

to the point aja deh ya..
komentar dengan akun aslimu atau kloningan kamu?

Saat ini ada dua kutub pandangan mengenai identitas Internet. Yang pertama adalah penganut Transparansi (a single identity transparancy). Identitas di Internet harus berupa identitas asli dan bukan identitas palsu. Dengan adanya identitas asli ini, pengguna identitas dapat bertindak sepantasnya. Pendapat ini didukung oleh Mark Zuckerberg, pendiri Facebook.

Yang kedua adalah penganut Anonim (undisclosed identities). Identitas di Internet harus mendukung kebebasan berpendapat dan anonimitas merupakan salah satu alat untuk itu. Pendapat ini didukung oleh Christopher Poole alias M00t, pendiri 4Chan.

Selamanya Internet akan menjadi sebuah sumber anonim. Identitas di Internet takkan pernah bisa dipercaya. Hanya orang bodoh yang benar-benar mempercayainya.

Keunggulan anonimitas tersebut merupakan sarana yang penting untuk orang dapat bersuara. Terkadang, sebuah kebenaran hanya perlu diperdengarkan untuk orang bisa menyelidikinya. Media-media arus umum yang sudah tersetir menyebabkan dibutuhkan saluran alternatif untuk dapat menyuarakan hal tersebut.

Kebenaran Data di Internet

Internet bisa menjadi sebuah tempat untuk menyampah [Budi Rahadjo, Mari “Menyampah” Di Internet, InfoLINUX Juli 2003]. Hal ini bisa dilakukan dengan menyediakan informasi yang tidak akurat secara massal. Ketika informasi salah tersebut tersedia secara massal, maka informasi tersebut menjadi sebuah informasi kebenaran. Sebagai contoh, beramai-ramai orang menulis Perang Diponegoro terjadi tahun 1815, bukan 1825. Mesin pencari akan menemukan 1815 sebagai sebuah “kebenaran”.

Dokumen-dokumen “kebenaran” ini banyak beredar di Intenet. Celakanya, banyak orang, termasuk Bang Rhoma, yang menganggap bahwa sumber data ini benar. Padahal, bahkan Wikipedia pun tidak dapat dijadikan sumber referensi bagi tulisan ilmiah. Walau pun ada usaha-usaha dalam meningkatkan kualitas Wikipedia, tetapi tetap sampai saat ini Wikipedia tidak dapat dijadikan bahan rujukan langsung.

Prinsip sebuah tulisan ilmiah adalah memiliki dasar-dasar yang telah dibuktikan dari penelitian orang lain. Hipotesis yang dipaparkan dapat diujicobakan kembali. Yang terutama, adanya pengakuan dari pihak-pihak autoritatif yang mendukung hipotesis tersebut (penyunting/editor). Internet, sebagai sumber tulisan yang bebas tidak selalu memiliki penyunting yang dapat dipertangungjawabkan.

Ketidakjelasan informasi inilah yang menyebabkan kebenaran dalam Internet harus selalu dipertanyakan.

Internet dan Anonimitas

Ketidakjelasan Internet dapat pula dijelaskan melalui protokol Internet itu sendiri yang memang anonim. Protokol HTTP yang dibangun di atas TCP/IP lazim dipakai untuk berhubungan. Protokol HTTP adalah sebuah protokol yang tidak menyimpan keadaan terakhir (stateless). Setiap sambungan dianggap sambungan yang berbeda satu sama lain. Saya memutuskan untuk menjelaskannya dengan analogi kisah warung serba ada, Warung Wawan.

Analogi Anda dan Warung Wawan
Ketika Anda ke warung Wawan, berapa kali pun Anda datang ke warungnya, Anda akan dianggap seperti pertama kali datang. Wawan takkan pernah mengenali Anda. Hal ini karena warung Wawan yang stateless tidak akan pernah menyimpan informasi kedatangan Anda sehingga sulit untuk berelasi dengan Wawan.

Salah satu kekurangan dari Warung Wawan adalah sebagai berikut: suatu hari Anda lupa kembalian. Anda datang ke warung Wawan dan dia tidak mengenali siapa Anda dan Anda sulit untuk mengklaim uang Anda. Apalagi, pada saat itu warung Wawan sedang ramai dikunjungi puluhan pengunjung.

Warung Wawan pun berusaha untuk memperbaiki diri dengan mencatat kedatangan Anda. Ia berusaha mencatat kedatangan Anda dengan memberikan tiket. Hal ini yang dilakukan oleh banyak situs dengan menyediakan Cookie dan Session. Wawan menyuruh Anda ke mana-mana membawa tiket tersebut.

Ketika Heker datang di tengah-tengah Anda dan Wawan. Heker melihat sebuah peluang dari tiket tersebut. Dengan bermodalkan kamera digital SLR, ia berhasil memotret tiket tersebut. Kemudian, ia mencetak tiket tersebut sehingga mirip 100% dengan tiket Anda.

Ketika Anda pulang, Heker diam-diam mendatangi Warung Wawan. Wawan seperti biasa menanyakan tiket yang dimiliki. Wawan lihat tiket Anda di tangan Heker, “Oh, Pak Anda, selamat datang!”. Wawan pun mulai menawarkan produk-produk berkualitas tinggi kepada Heker. Wow, ternyata Anda telah meninggalkan sejumlah uang yang sangat besar di Warung Wawan agar tidak perlu membawa uang.

Heker membeli dildo, video-video SM, dan segulung tisu dari Warung Wawan dengan menggunakan tiket Anda. Anda tidak sadar kalau uangnya dipakai untuk membeli barang-barang najis dari Warung Wawan. Hal ini karena mungkin jumlah transaksinya tidak terlalu besar dibandingkan apa yang biasa Anda beli. Apalagi, Anda terlalu sibuk belajar agama dan kenegarawanan.

Sepuluh tahun kemudian, Anda mencalonkan diri menjadi seorang Gubernur. Seorang yang santun, saleh, dan bervisi menjadi citra diri Anda. Semua orang kagum pada sosok yang seakan tak bercacat cela. Namun tidak demikian halnya dengan Cericek. Wartawan ini tidak percaya dengan citra sempurna ini. Ia bersama rekan-rekan media lainnya berlomba mencari cela Anda.

Lelah karena gagal menemukan kelelahan, tak sengaja Cericek mengunjungi warung Wawan. Wawan yang polos dan kini telah lebih ramah pada pengunjungnya pun menyapa Cericek, “kecil-kecil begini, warung ini langganannya Pak Anda, lho…”. Cericek terkejut mendengar berita durian jatuh ini.

Cericek mulai mengorek-ngorek informasi mengenai Anda. Wawan yang polos pun sampai memperlihatkan rekam jejak Anda. Tidak ada UU yang melindungi rekam jejak dan privasi seseorang di Indonesia, jadi Wawan pun tak sadar bahwa rekam jejak dan privasi itu adalah sesuatu yang penting. Apalagi, Anda sudah menjadi figur publik.

Cericek pun membeli log tersebut dengan harga yang mahal dari Wawan. Dari log yang berbuku-buku itu, tak sengaja ia melihat pembelian dildo dan video-video tak wajar. Cericek melonjak kegirangan. Ia pun membuka komputer dan mulai mengetik artikel “Anda dan hobi tersembunyinya”. Penyuntingnya pun kegirangan dengan informasi itu dan memutuskan untuk memasang berita tersebut di halaman depan.

Anonim dalam Jaringan
Jaringan Internet itu sendiri anonim. Sebuah paket yang dikirimkan dari peladen ke peramban dan sebaliknya melewati berbagai jaringan. Itu sebabnya, Internet disebut sebagai jaringan tak terpercaya. Paket tersebut seakan dilemparkan ke dalam kotak hitam dan di ujung sana menantikan paket tersebut tidak tahu telah melewati mana saja. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya.

Sebagai contoh, sebuah percobaan traceroute (sebuah perkakas sederhana yang bertujuan melihat tempat-tempat persinggahan paket jaringan) ke sebuah tujuan dari tempat tertentu akan menghasilkan jalur tertentu. Pada waktu yang lain, ketika traceroute kembali dijalankan dengan parameter yang sama, jalur yang dihasilkan berubah.

Ada beberapa alasan yang terpikirkan oleh saya saat menulis ini:

Bisa jadi sebuah ISP menerapkan NAT dengan IP publik yang berubah-ubah.
Alokator antrian menerapkan algoritma Round Robin pada pengiriman paket.
Ada router yang sedang rusak atau diganti baru misalnya.
Router menghitung ulang jalur transmisi dan menemukan jalur optimal yang baru.
dan lain sebagainya.
Internet itu sendiri adalah sekumpulan jaringan lokal yang saling terhubung dan memutuskan untuk bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Ia seperti sebuah LAN dari sekumpulan WAN. Kita tidak tahu apa yang terjadi ketika sebuah paket di WAN tertentu.

Identitas dan Kebebasan Bersuara

Beruntung, yang hancur pada cerita Anda dan Warung Wawan hanyalah sebuah karir politik seseorang. Namun, malang bila ini terjadi kepada para aktivis HAM dan oposisi. Mereka yang mempertaruhkan hidup mereka untuk memperjuangkan hak-hak orang lain terancam dengan adanya identitas. Di tengah opresi kediktatoran dan kekuatan legal korporasi, jelas mereka yang tak berkuasa tak dapat terang-terangan menyuarakan kegalauan.

Kekuatan Internet sebagai sebuah sumber informasi yang perlu dikonfirmasi merupakan keuntungan bagi para golongan kiri untuk menyuarakan suara mereka. Kasus penjelekan citra KPK merupakan contoh klasik. Ketika media-media berita Indonesia tidak berani memberitakan secara gamblang, suara-suara di media sosial menyatakan keresahan mereka.

Boleh jadi, Jokowi merupakan contoh tokoh yang memilih jalur ini. Ketika partai-partai memilih Foke, Jokowi memilih untuk merangkul Internet. Sikap simpatik Jokowi membuat dia dikagumi di Kaskus. Penjualan pernak-pernik Jokowi lewat forum Jual-Beli cukup banyak menyedot perhatian. Suara dari mulut-ke-mulut di Internet membuat golongan muda yang melek Internet dan BBM (baca: sebagian besar warga Jakarta) membuat orang banyak terpaut kepada Jokowi.

Saya sendiri melihat ini merupakan peluang perubahan bagi tatanan bernegara kita. Partai-partai perlu mawas diri dan tak lagi merasa bahwa mereka adalah pusat tata surya. Internet menjadi suara populer setelah berita. Bahkan di Amerika Serikat sendiri, FOX News mulai dipertanyakan sebagai sumber berita satu-satunya.

Tentu, kebebasan berpendapat perlu waktu. Dari sampel kualitas komentar pada situs-situs berita, para pemberi komentar seakan anak-anak yang tidak pernah diajari oleh orang tuanya. Namun, ini adalah sebuah pertanda bagus. Ini adalah proses awal dari kesadaran akan hak mengeluarkan pendapat. Saat ini orang masih berpikir bahwa identitas aslinya terlindungi.

Bangsa kita mungkin masih dalam euforia awal bebas berpendapat. Vandalisme dalam berbicara itu suatu saat akan terkikis. Seiring dengan kejamakan berpendapat, bangsa ini akan mulai berpendapat dengan benar. Bahkan, bisa jadi akan terjadi pelaporan fakta secara daring. Hal ini mungkin terjadi karena orang masih merasa bahwa identitas aslinya terlindungi dan mudah-mudahan ada UU yang melindungi.

Identitas Media Sosial

Salah satu keresahan saya adalah adanya usaha pembuatan identitas asli pada media sosial. Media sosial berusaha menjadi pusat penyedia identitas dan berusaha seakan-akan yang paling valid di Internet. Padahal, ada beberapa hal yang membuat identitas asli di Internet itu adalah semu.

Proses Registrasi yang Longgar
Proses registrasi ke sebuah media sosial hanya cukup menyediakan alamat surel. Hal ini menyebabkan seorang dapat meregistrasikan diri dengan informasi palsu tapi terlihat valid.

Sebagai contoh [Akun ini tidak pernah ada dan hanya contoh fiktif], saya dapat menjadi “Indira Sukma Dewi” dengan menyediakan data sebagai berikut:

Membuat surel di Yahoo dengan alamat “[email protected]”.
Menyediakan foto-foto yang diambil dari Google Image Search seorang artis Thailand yang tak terkenal. Atau ambil dari forum. Kalau mau niat sedikit, gunakan GIMP untuk mengubah beberapa fitur gambar.
Menyediakan alamat antah berantah yang benar-benar ada tetapi sebenarnya tidak ada. Misalnya, “Jatinegara Kaum, Jakarta Timur”.
Apakah data tersebut bisa dibuat? Tentu saja bisa. Mungkin beberapa berargumen bahwa Yahoo! Mail memerlukan alamat surel kedua. Tetapi, dengan menggunakan alamat surel sekali pakai yang tersedia di Internet, kita bisa mendaftarkan diri sebagai orang lain.

Dengan demikian, terbukti bahwa media sosial sebagai penyedia identitas tidak seharusnya dijadikan sumber yang valid.

Internet Melibatkan Kebijakan Antar Negara
Pendiri Wikileak, Assange, memiliki banyak negara yang bersedia untuk menerimanya untuk suaka politik. Hal ini karena tidak ada satu negara pun di muka bumi yang benar-benar bisa menekan Internet. Amerika hanya bisa mendorong negara sekutunya untuk bisa menahan Assange sehingga bisa di deportasi ke Swedia dan baru benar-benar bisa ditangkap oleh Amerika.

Contoh lainnya adalah 4Shared. Server mereka terletak di negara Long Islands (British), sebelah Puerto Rico. Sehingga, Indonesia tidak dapat mengejar untuk menutup pusat layanan data yang memiliki banyak lagu musisi Indonesia.

Ketika seseorang mempercayakan data identitas Anda kepada sebuah perusahaan di Amerika Serikat semacam Facebook, Google, dan lain sebagainya, seseorang sebenarnya menyerahkan data tersebut kepada niatan baik sang penyedia layanan media sosial. Data di dalam media sosial tidak dapat benar-benar hilang seperti yang diinginkan pengguna. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat menuntut media sosial.

Kebijakan privasi yang sering berubah-ubah sering kali menjadi celah bagi media sosial dalam melindungi dirinya dari tuntutan. Lemahnya kebijakan privasi dan perlindungan konsumen di sebuah negara menjadi celah bermain bagi para pengiklan. Apalagi, bila pengiklan membuat perusahaan di negara-negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi.

Sebuah pertanyaan yang relevan yang perlu dipertanyakan pada sistem Indonesia, disadur dan diubah dari Lawyers.com:

Apakah negara saya menyediakan perlindungan hukum bagi perlindungan privasi saya di media sosial.
Jika ada, proteksi apakah yang disediakan bagi perlindungan privasi? Uang ganti rugi?
Jika sebuah gambar yang saya taruh di media sosial digunakan oleh pihak ketiga, adakah perlindungan terhadap Hak Salin (copyright?)? Dapatkah penyedia media sosial yang harus bertanggung jawab atas hal tersebut?
Internet menyebabkan sebuah hukum dalam sebuah negara tidak benar-benar efektif 100%.

Perlindungan Negara Terhadap Internet
Tentu saja, ketika dibilang bahwa Internet adalah sebuah alam rimba tidak sepenuhnya benar. Negara dapat menyediakan perlindungan bagi warganya dengan menyediakan klausul yang tepat bagi penyedia jasa di Internet.

Sebagai contoh, untuk melindungi hak paten perusahaan di Amerika, setiap produk yang masuk ke dalam Amerika Serikat harus sesuai dengan hukum. Apabila sebuah perusahaan gagal memenuhi tuntutan hukum, Amerika secara resmi melakukan pelarangan terhadap peredaran produk-produk yang melanggar.

Dengan kata lain, kekuatan potensi pasar di Amerika Serikat memaksa perusahaan asing sekalipun untuk memenuhi tuntutan mereka.

Indonesia sebagai negara dengan potensi pasar yang besar sebenarnya dapat berbuat seperti itu. Indonesia berhak meminta kepada sebuah operator layanan jasa pesan teks untuk memindahkan pusat datanya ke Indonesia. Sehingga, layanan tersebut dapat dipantau dan apa bila ada proses hukum yang melibatkan operator tersebut, hukum di Indonesia dapat menjangkaunya.

Pemerintah sebagai pengawas juga memerlukan transparansi. Namun, saya percaya UU Keterbukaan Informasi Publik menyediakan instrumen bagi publik untuk memonitor pemerintah. Fungsi pemonitoran ini penting agar pemerintah tidak menjadi diktator.

Sikap Saya (Kesimpulan)
Saya percaya bahwa Internet harus dipahami sebagai anonim. Hal ini penting agar orang tidak mempercayai sepenuhnya informasi pseudo dari identitas di sosial media atau apa pun penyedia informasi. Namun, jaminan anonim ini memberikan dorongan agar orang dapat menyuarakan suara-suara yang terkungkung. Keadilan dapat ditegakkan dan bara dalam sekam bisa dipadamkan.

Sebagai sumber informasi alternatif, Internet tidak seharusnya dipercaya 100%. Namun, ia bisa memberikan perspektif berbeda yang dapat membukakan pandangan. Dengan kata lain, ia mencerdaskan manusia penggunanya.


Referensi Tambahan :
Idenditas di Internet

0 comments:

Post a Comment

Ketika sebuah kalimat membentuk untaian makna baru, maka sebuah simbol akan terlihat.